Mengenal Ahlussunah

Februari 3, 2008 at 3:51 am Tinggalkan komentar

Oleh Abu Zaki bin Muchtar, Redaksi Buletin Ahlussunnah Waljama’ah

Ahlussunnah sebenarnya nama yang tidak asing di telinga kita. Bagi sebagian kaum muslimin, makna Ahlussunnah berarti orang yang menjalankan ibadah-ibadah yang tidak diwajibkan dalam agama ini. Pemahaman seperti itu perlu lebih diperjelas dan diperinci.

Oleh karenanya, pada edisi perdana ini, Buletin Dakwah AHLUSSUNNAH akan disajikan kepada sidang pembaca yang kami muliakan, apa makna Ahlussunnah dan amalan seperti apa sehingga seseorang dinamakan Ahlussunnah. Ini penting kita dahulukan, agar tidak terjadi kekeliruan
dalam memahami Ahlussunnah. Terkadang, akibat dari kesalahan dalam memahami suatu ajaran, sering memunculkan sikap salah paham dan berlebihan. Yang seharusnya dicintai, justru dimusuhi. Yang seharusnya didekati malah dijauhi. Kepada Allah
kami mohon petunjuk agar dibimbing dengan benar dalam menjelaskan perkara ini.

Mendudukan makna Sunnah.

Makna sunnah yang paling banyak dikenal oleh sebagian kaum muslimin adalah menjalankan ibadah yang bukan wajib. Seperti shalat-shalat sunnah, puasa sunnah dan amalan-amalan sunnah lainnya. Makna seperti itu adalah sunnah dari sisi fikih, yaitu apabila diamalkan berpahala jika ditinggalkan tidak menimbulkan dosa. Sedangkan sunnah yang dimaksudkan syariat ini sebagaimana banyak kita dapati dalam hadits-hadits yang sahih dimana kita diperintahkan untuk berpegang teguh dengannya adalah apa yang ditetapkan oleh Rasulullah dalam bentuk perintah maupun larangan beliau. Juga dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun persetujuan beliau . Inilah makna sunnah yang dikehendaki agama ini, sebagaimana beliau sabdakan :

 

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوْا عَلَيْهَا بِانَّوَاجِذِ

Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang lurus dan terbimbing yang hidup setelahku. Gigitlah ia dengan geraham kalian.”(HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Irbadh bin Sariyah)

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan golonganku” (Bukhari-Muslim dari hadits Anas bin Malik).

 

Hadits di atas memberi faedah kepada kita, bahwa perintah mengikuti tuntunan sunnah yang dikehendaki adalah mengamalkan apa yang ditetapkan Rasulullah , apakah dalam perkara aqidah, ibadah, akhlak, pola pikir, muamalah dan lain-lainnya. Dengan demikian, orang yang dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan menjalankan apa yang Rasulullah tetapkan, dinamakan Ahlussunnah.

Setelah paham makna sunnah, kita mesti pula memahami makna Al Jamaah. Sebab, Ahlussunnah tidak bisa dilepaskan dari kata Al Jamaah. Penting bagi kaum muslimin memahami makna ini, karena di tengah masyarakat muncul kesan yang jelek tentang al jamaah, seperti Islam Jamaah atau Jamaah Islamiyah (JI). Islam Jamaah adalah kelompok yang mengkafirkan sesama muslim yang tidak ikut golongannya. Karena sudah jelek namanya, akhirnya berganti nama menjadi LDII. Padahal keyakinannya tidak berubah sedikitpun. Sedangkan Jamaah Islamiyah adalah sekumpulan orang-orang yang bermimpi mendirikan negara Islam, juga dengan cara mengkafirkan orang lain, tapi yang di bidik terlebih dahulu adalah dengan mengkafirkan pemerintahannya. Diajaknya umat untuk membenci pemerintah dengan menyebut pemerintah ini thogut, dholim dan kafir, sehingga muncul pembangkangan terhadap pemerintahnya.

Adapun makna yang dikehendaki dari al Jamaah disini adalah Rasulullah dan para sahabat yang hidup bersamanya dan orang-orang yang hidup setelah mereka dengan menjalankan apa yang Rasul dan para sahabat menjalankannya.

Ini sesuai dengan riwayat berikut ini :

Hadits Abdullah bin Amr yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, bahwa Rasulullah bersabda :

 

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتيِ عَلَى ثَلاَثِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةَ كُلُّهَا فىِ النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابيِ

Akan terpecah belah umatku menjadi tujuh puluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan yaitu : apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”.

Adapun dalam riwayat Ibnu Majah dari Auf bin Malik, ketika ditanya, siapakah golongan yang selamat dari api neraka itu? Rasulullah menjawab : “Al Jamaah”.

Dengan demikian, Ahlussunnah Waljamaah bermakna muslim yang beramal dengan apa yang diamalkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, yang dalam memahami pengamalan tersebut sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah, walaupun orang tersebut sendirian dan terpencil. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Nabi :

 

اَلْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَلَوْ كُنْتَ وَحْدَك

Al Jamaah, sepakat dengan kebenaran (yang dibawa Rasulullah dan para sahabat) walau engkau sendirian

Sungguh terasa mudah sekali agama ini. Kita tinggal mengikuti dan mengamalkan apa yang telah diperbuat oleh Nabi kita dan para sahabatnya. Selain itu, keberadaan mereka bisa menjadi ukuran apakah seseorang bisa dikatakan Ahlussunnah atau bukan. Bagi mereka yang mengikuti dan mengamalkan ajaran beliau dengan penuh keikhlasan, kesungguhan dan kecintaan maka merekalah Ahlussunnah. Sebaliknya, walau mengaku diri sebagai Ahlussunnah, namun pengamalannya berbeda dengan apa yang diamalkan Rasulullah dan para sahabatnya, pengakuan ini sungguh sulit diterima. Bagaimana dikatakan Ahlussunnah jika makna sunnah tidak dimengerti dan amalan sunnah tidak pernah dikerjakan.

Jika kita berkaca pada sejarah, pada awalnya umat Islam adalah umat yang satu. Mereka berjalan di atas bimbingan Rasulullah . Apa yang Rasulullah perintahkan mereka kerjakan. Sebaliknya, semua larangan beliau segera mereka tinggalkan. Mereka tidak banyak mengajukan pertanyaan. Yang mereka ucapkan hanya “Kami dengar dan taat”. Lebih dari itu, mereka menerima dengan lapang dada semua yang ditetapkan Rasulullah. Saat itu tidak ada istilah Ahlussunnah. Sebab jika disebutkan seorang muslim, niscaya muslim yang dimaksud adalah orang yang dengan amalan sebagaimana gambaran di atas. Istilah ini baru dikenal jauh sepeninggal Rasulullah tatkala fitnah dan prahara menimpa kaum muslimin. Keadaan ini terjadi disebabkan bermunculannya orang-orang Islam yang tidak menjadikan Rasulullah dan para sahabatnya sebagai ikutan dan tempat rujukan dalam berbagai persoalan. Akhirnya kaum muslimin terpecah belah. Ada yang mencela dan membenci para sahabat Nabi, ada juga yang berlebihan-lebihan kepada sahabat yang lainnya. Muncul pula saat itu keyakinan bahwa Allah tidak mentaqdirkan apapun terhadap hambaNya dan muncul pula segolongan manusia yang meyakini bahwa Allah tidak memiliki sifat atau hanya dikebiri dalam beberapa sifat saja. Dalam situasi seperti itulah, istilah Ahlussunah waljamaah muncul untuk sebutan bagi siapapun yang mengembalikan urusan agama ini kepada apa yang telah diyakini oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Sejatinya kita diperintahkan untuk berpijak dengan bimbingan Nabi dan para sahabatnya, seperti yang Allah isyaratkan dalam al Quran :

 

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Bahkan Allah menegaskan, orang yang beriman seperti imannya Rasul dan para sahabatnya, mereka itulah yang mendapat petunjuk Allah.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Bahkan Allah menegaskan, orang yang beriman seperti imannya Rasul dan para sahabatnya, mereka itulah yang mendapat petunjuk Allah.

 

فَإِنْ ءَامَنُوا بِمِثْلِ مَا ءَامَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dua ayat tersebut di atas sudah mencukupkan buat kita agar kita mengikuti bimbingan Rasulullah dan para sahabatnya karena mereka itulah Ahlussunnah waljamaah. Keberadaan mereka sebagai barometer untuk menilai seseorang berpijak di atas sunnah atau tidak. Lebih-lebih, para pendahulu umat ini terutama dari kalangan para ulamanya selalu menasihati kita semua untuk mengembalikan urusan agama ini kepada Rasul dan para sahabatnya. Dengan perantara ilmu yang mereka sampaikan, kita jadi mengerti bahwa tanpa mengikuti bimbingan Rasul dan para sahabatnya kita –na’udzubillah—akan tersesat dengan sejauh-jauh kesesatan, apalagi mempertentangkannya dengan pendapat orang selain mereka atau dengan dalih kebiasaan.

Kita lihat, apa yang diucapkan oleh para ulama terdahulu yang memang layak untuk kita perhatikan ucapannya.

Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullah mengatakan : “Jika kalian dapati ada sunnah dari Rasulullah yang bertentangan dengan ucapanku, maka peganglah sunnah Rasul dan tinggalkan ucapanku. Karena akupun akan berpendapat dengan sunnah itu”.

Al Imam Az Zuhri mengatakan : Para ulama kita terdahulu mengatakan : “berpegang teguh dengan sunnah adalah jalan keselamatan”

Pembaca yang kami muliakan, walaupun dengan sangat terbatas, paling tidak kita dapat memahami makna Ahlussunnah waljamaah dan bagaimana seharusnya seorang Ahlussunnah beramal. Untuk itu Insya allah pada edisi berikutnya akan kami sajikan untuk sidang pembaca, apa yang seharusnya perlu kita ketahui terlebih dahulu dalam memahami agama ini. Wallahu a’lam. Wabillahi taufiq.

Entry filed under: Aqidah. Tags: .

لا اله الا الله Da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terkini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.