لا اله الا الله Da’wah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Maret 3, 2008 at 3:48 am Tinggalkan komentar

Oleh Ustadz Fathurrohman, Pengasuh Ponpes Ma’had Umar bin Khattab Kuningan

Segala puji kita panjatkan kepada Allah yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan-Nya kepada kita semua, terutama nikmat iman dan islam yang merupakan nikmat yang terbesar bagi kita semua. Semoga Allah selalu menjaga keimanan dan keislaman kita hingga akhir kehidupan kita.

Pembaca yang kami muliakan, seperti yang telah kami sampaikan pada edisi pertama, Pada edisi sekarang ini akan kami sajikan perkara yang harus diketahui terlebih dahulu bagi seorang muslim yaitu memahami makna لا إله إلا الله. Kami menganggap ini adalah perkara penting karena perkara inilah yang pertama kali didakwahkan oleh Rasulullah. Oleh karenanya kami ingin sedikit mengulas bagaimana da’wah junjungan kita Rasulullah yang merupakan teladan bagi kita dalam kehidupan ini, mudah-mudahan dengan uraian ini bisa menambah keimanan dan kecintaan kita kepada Allah dan rasul-Nya .

Rasulullah ketika beliau diangkat menjadi rasul dan diperintahkan oleh Allah untuk menyeru manusia kedalam islam beliau bangkit dan menyeru mereka agar mengikrarkan At -Tauhid yaitu menjadikan Allah satu-satunya Zat yang berhak untuk diibadahi seraya meninggalkan apa-apa yang sudah biasa mereka lakukan dari perbuatan-perbuatan syirik, seperti ; memuja dan meminta barakah dari patung-patung, percaya dengan dukun dan jimat dan yang lainnya dari jenis kesyirikan.

Beliaupun mendatangi tokoh-tokoh Quraisy dan tempat-tempat perkumpulan manusia seperti balai-balai pertemuan dan pasar-pasar dan yang lainnya seraya menyeru mereka agar mengikrarkan At-Tauhid / لاإله إلا الله dan meninggalkan semua bentuk kesyirikan.

Akan tetapi kebanyakan mereka tidaklah menyambut seruan Rasulullah tersebut dengan penuh penerimaan bahkan menyambutnya dengan penuh pengingkaran dan permusuhan.

Mari kita simak bersama apa yang diceritakan oleh salah seorang sahabat nabi yang mulia Thariq al Muhariby

 

Saya melihat Rasulullah lewat di pasar Dzil Majaaz dan beliau mengenakan baju merah seraya berkata ; “Wahai manusia, katakanlah لا إله إلا الله niscaya kalian selamat” dan dibelakang beliau seorang laki-laki melempari beliau dengan batu hingga kaki dan tumit beliau berlumuran darah. Lelaki itu berkata ; ”Wahai manusia, janganlah kalian mentaati dia! karena dia adalah seorang pendusta” Sayapun bertanya; “ Siapa orang itu ?” Orang-orang menjawab; ”Seorang dari keturunan Abdul Muthalib” Saya bertanya kembali; ”Siapakah orang yang dibelakangnya yang melemparinya dengan batu ?” Mereka menjawab; ”Abdul’uzza-Abu Lahab”

[kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan yang lainnya dengan sanad yang shahih].

 

Penyebab pengingkaran mereka terhadap da’wah Rasulullah

Ada banyak faktor yang menyebabkan mereka mengingkari da’wah Rasulullah , Diantaranya adalah dikarenakan terlalu kentalnya keterikatan batin mereka dengan kebiasaan nenek moyang mereka yang berada diatas kesyirikan yang pada kenyataannya sangat bertentangan dengan da’wah yang diemban oleh Rasulullah . Padahal inti seruan dakwah Rasulullah adalah harus meninggalkan kesyirikan-kesyirikan yang sudah biasa mereka lakukan dan menjadikan seluruh ibadah hanya untuk Allah semata. Inilah yang menjadikan mereka enggan untuk mengikuti ajaran Islam.

 

Allah menjelaskan hal ini didalam Al Qur’an

 

وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ.أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ.وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى ءَالِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ.مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلَّا اخْتِلَاقٌ

 

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”. Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kalian dan tetaplah (beribadah kepada) tuhan-tuhan kalian, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini (mengesakan Allah dalam beribadah) dalam agama yang terakhir, ini tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan. {Ash Shaad ; 4-7}.

 

Dalam keadaan yang seperti itu, Rasulullah tidak pernah mengenal istilah mundur bahkan beliau terus bersabar menyeru kaumnya agar mereka mengikuti ajaran Islam dan meninggalkan semua jenis kesyirikan. Beliaupun mengutus para sahabat ke negeri-negeri yang lainnya untuk menyeru kepada At-Tauhid, sehingga dengan semata-mata kehendak Allah dan karunia-Nya akhirnya ajaran Islam bisa tegak dimuka bumi ini.

 

Para pembaca yang mulia ! {semoga Allah merahmati kita semuanya}.

Perlu kita ketahui bersama bahwasanya da’wah yang diemban oleh para rasul عليهم السلام adalah satu yaitu menyeru manusia kepada At-Tauhid لا إله إلا الله.

Allah berfirman ;

 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada sesembahan yang (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian Aku”. {Al Anbiya ;25}.

 

Kalimat At-Tauhid لا إله إلا الله yang diseru oleh para rasul عليهم السلام adalah kewajiban pertama yang harus diikrarkan oleh setiap manusia. Akan tetapi, tidaklah cukup hanya ucapan dengan lisan semata tanpa mengetahui makna dan konsekwensi bagi orang yang mengucapkannya seperti yang terjadi pada kebanyakan manusia pada zaman kita sekarang. Sehingga tidak mengherankan kalau mereka mengucapkan kalimat tersebut tapi disaat yang sama merekapun masih suka meminta-minta ke kuburan, datang bertanya pada dukun, memakai jimat penolak bala, bernadzar untuk kuburan yang dianggap keramat atau hal-hal yang lainnya dari bentuk-bentuk kesyirikan.

 

Maka sudah menjadi kewajiban yang paling utama bagi kita untuk mengetahui makna kalimat yang mulia iniلاإله إلا الله dan mengetahui konsekwensi bagi orang yang mengucapkannya, sehingga kita tidak terjatuh pada hal-hal yang bertentangan dengan kalimat yang mulia tersebut.

 

Makna لاإله إلا الله adalah لا معبود بحق إلا الله (tidak ada yang berhak diibadahi melainkan Allah). Sebagaimana uraian sebelumnya, ketika seseorang mengikrarkan لاإله إلا الله maka konsekuensinya adalah ia hanya beribadah kepada Allah semata dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selainNya. Di antara bentuk peribadatan adalah berdoa, bertawakal, berlindung, nadzar, menyembelih, berharap, takut dan lain-lain. Oleh karenanya, diharamkan seorang muslim berdoa, berlindung, bertawakal, berharap dan sejenisnya kepada selain Allah. Tidak boleh dilakukan walau kepada Nabi atau malaikat sekalipun. Jika kepada hamba-hamba yang demikian dekat dengan Allah dan dicintaiNya kita tidak diperkenankan melakukan itu semua, lebih-lebih lagi kepada orang yang belum jelas memiliki kedudukan mulia dalam pandangan Allah.

 

 

Allah berfirman :

 

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ . وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ .

Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya al Kitab, hikmah dan kenabian lalu ia berkata kepada manusia “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata) “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani karena kamu selalu mengajarkan al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”. Dan tidak wajar pula baginya menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah patut dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah menganut agama Islam?

(Surat Ali Imran 79-80)

 

Pembaca yang mulia, barakallahufikum. Inilah makna yang dikehendaki oleh agama ini ketika seseorang mengikrarkan kalimat لاإله إلا الله. Inilah yang diajarkan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya yang kemudian diwariskan kepada generasi setelahnya hingga kepada kita sekarang ini. Namun dalam kenyataannya, syaitan tidak menghendaki makna itu dipahami secara benar oleh kaum muslimin. Syaitan berusaha menggelincirkan umat ini dengan mengaburkan makna kalimat لاإله إلا الله seraya menghiasi amal-amal kesyirikan seperti yang tergambarkan di atas bukan sebagai kesyirikan.

 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

 

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).

 

Akhirnya, setelah memahami makna kalimat لاإله إلا الله, maka insya Allah pada edisi berikutnya akan kami sajikan syarat-syarat seseorang mengucapkan لاإله إلا الله Semoga sajian tersebut bisa kita ikuti bersama.

Wallahu a’lam.

Entry filed under: Aqidah. Tags: .

Mengenal Ahlussunah Kalimat لا اله الا الله Bukan Sekedar Ucapan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Tulisan Terkini


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.