Kalimat لا اله الا الله Bukan Sekedar Ucapan
Maret 3, 2008 at 3:54 am Tinggalkan komentar
Oleh Ustadz Abdul ‘Alim, Pengajar Ponpes Umar Bin Khattab Kuningan
Sidang pembaca yang kami muliakan, barakallahufikum. Pada edisi kali ini kami akan sajikan kehadapan sidang pembaca tentang keutamaan sesorang mengucapkan kalimat thayibah, kalimat agung yang akan mengantarkan pelakunya mendapat kebaikan dunia dan akhirat. Di dunia, ia akan memperoleh ketenangan dan ketentraman, terpelihara darah dan hartanya, serta diterima amalan-amalannya. Di akhirat, ia akan mendapatkan ampunan Allah dan syafaat nabi, serta Allah akan memasukkannya ke dalam surga.Yang menjadi pertanyaan kita adalah, apakah hanya sekedar ucapan saja atau ada syarat dan tuntutan lainnya sehingga seseorang dalam kedudukan sedemikian mulia dengan kalimat tersebut.
Kalimat لاإله إلا الله adalah ucapan yang biasa kita ucapkan sehari-hari bahkan kalimat ini adalah kalimat yang pertama kali yang harus diikrarkan bagi orang yang baru masuk islam. Oleh karena itu, selayaknya bagi kita untuk memahami ucapan لاإله إلا الله sesuai dengan apa yang diajarkan dan diamalkan Nabi kita Muhammad agar mendapatkan keutaman-keutamaan tersebut.Untuk menilai syahadat kita masing-masing, marilah kita simak ayat-ayat Al-Quran dan hadist-hadist yang shahih, yang menerangkan tentang hal ini.
Wahhab bin munabbih seorang ulama dari kalangan tabiin, ketika ditanya: “ Apakah kalimat لاإله إلا الله adalah kunci masuk surga?”. Beliau menjawab: ”Tentu, tetapi tidaklah suatu kunci pasti punya geriginya. Jika engkau memiliki kunci yang ada geriginya akan terbuka pintu itu. Kalau tidak ada maka tidak akan terbuka pintu tersebut”.(Shahih Bukhari Kitabul Janaiz Bab Man kana akhiru kalamihi لاإله إلا الله )
Demikianlah, kalimat لاإله إلا الله diumpamakan seperti sebuah kunci. Adapun syarat-syarat dan tuntutan-tuntutannya diibaratkan seperti gerigi kunci tersebut. Barangsiapa yang mengucapkan kalimat لاإله إلا الله dengan memenuhi syarat –syarat dan tuntutan-tuntutannya, maka ia akan masuk surga dengan rahmat Allah. Dan barangsiapa yang mengucapkannya hanya di lisan semata tanpa memenuhi syarat-syarat dan tuntutan-tuntutannya, maka ia bagaikan orang yang memiliki kunci yang tak bergerigi, sehingga tidak dapat memberikan manfaat baginya.
Syarat-syarat dan tuntutan-tuntutan dari kalimat لاإله إلا الله telah dijelaskan oleh Allah dan RasulNya baik dalam Al-Quran dan Al-Hadits, secara tersurat maupun tersirat. Para ulama berusaha mengumpukannya hingga terhimpun 8 syarat yang mesti diketahui oleh kita kaum muslimin. Syarat-syarat tersebut adalah :
-
Memahami ma’nanya.
Orang yang mengucapkan dan mengikrarkan suatu kalimat, pasti dia sebelumnya sudah paham tentang apa arti kalimat yang diucapkan atau diikrarkannya. Jika tidak, maka ucapannya adalah ucapan kosong, Demikian pula kalimat لاإله إلا الله, sebelum mengucapkannya harus tahu maknanya. Sebagaimana firman Allah :
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu” (Muhammad :19)
إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran dan mereka mengetahui ( maknanya)”. (Az-zukhruf :86)
Rasulullah bersabda :
“من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة“
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan mengerti لاإله إلا الله (yaitu tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan banar kecuali Allah) maka ia akan masuk surga”. (Hadits shahih riwayat Imam Muslim dari Utsman bin Affan, nomor : 26)
-
Yakin dan tidak ragu-ragu.
Orang yang mengikrarkannya dituntut untuk menyakini sepenuh hatinya apa yang dilafadzkannya, bahwa hanya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi. Adapun sesembahan selainNya, apabila diibadahi maka itu adalah peribadatan yang batil.
Sebagaimana sabda Rasullullah SAW : “Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan sesungguhnya saya adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba berjumpa dengan Allah dangan membawa persaksian ini tanpa keraguan, maka pasti ia masuk surga. (HR. Muslim).
Begitu juga firman Allah :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu”. ( Al-Hujuraat : 15)
-
Ikhlas dan tidak mencampuri keikhlasannya dengan tujuan-tujuan dunia.
Tuntutan berikutnya adalah orang yang mengucapkan لاإله إلا الله dituntut untuk ikhlas karena Allah bukan karena ingin mamperoleh pujian atau terpaksa, bukan untuk mendapatkan wanita atau bukan pula agar terlindungi darah dan hartanya.
Sebagaimana firman Allah :
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“ Dan tidaklah mereka di perintahkan kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan ikhlas, memurnikan agama hanya untuk Allah”. ( Al Bayyinah : 5)
Rasulullah bersabda: “Orang yang paling bahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan لاإله إلا الله dangan ikhlas dari hatinya. ( HR. al Bukhari dari Abu Hurairah )
-
Jujur tidak dusta.
Sebagaimana firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur ”. ( At-Taubah : 119).
Rasulullah telah bersabda :
“ Tidaklah seorang hamba bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dangan benar kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dia ucapkan dengan jujur dari hatinya kecuali Allh haramkan baginya api neraka (HR. al Bukhari).
Adapun orang orang munafiq walaupun mereka mengucapkan لاإله إلا الله tetapi karena tidak disertai dengan keyakinan, keikhlasan dan kejujuran dari hatinya bahkan hati mereka kufur kepada Allah dan RasulNya, maka persaksiannya tidak diterima di sisi Allah dan mereka di akhirat dimasukkan ke dalam api neraka.
Sebagaimana firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا
“ Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan samua orang-orang munafik dan orang -orang kafir ke dalam neraka jahannam”. (An Nisaa : 140)
Ini menunjukan bahwa orang yang dapat masuk surga bukan hanya sekedar dengan mengucapkan لاإله إلا الله tetapi dia harus memenuhi syarat dan tuntutannya .
-
Cinta dan senang terhadap kalimat لاإله إلا الله .
Yaitu cinta akan makna yang terkandung padanya dan cinta terhadap ahli tauhid yang mengamalkan tuntutannya. Adapun kebencian terhadap makna dan tuntutan yang terkandung didalam kalimat لاإله إلا الله akan menggugurkan seluruh amalan kebaikanya.
Sebagaimana firman Allah:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kapada apa yang diturunkan Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) amalan-amalan kebaikan mereka” (Muhammad : 9)
-
Tunduk dan siap untuk diatur dan terikat dengan tuntutan yg ada didalam kalimat لاإله إلا الله .
Yaitu dengan beribadah hanya kapada Allah, melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya serta tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Sebagai mana firman Allah :
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.”” (An Nur : 51)
-
Menerima dan tidak menolaknya.
Yaitu menerima dengan lapang dada semua yang dituntut oleh kalimat ini dangan hati dan lisannya. Sesuai dengan firman Allah :
“Katakanlah, bahwa kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami ”. (Al- Baqarah : 136)
-
Meninggalkan dan mengingkari segala bentuk sesembahan selain Allah.
Rasulullah SAW bersabda :“Barangsiapa yang berkata لاإله إلا الله dan mengingkari sesembahan yang disembah selain Allah maka diharamkan harta dan darahnya, sedangkan perhitungannya ( jujur atau tidak ucapannya) di serahkan kepada Allah “. ( HR. Muslim nomor 23)
Uraian di atas menunjukan bahwa kalimat لاإله إلا الله tidak cukup hanya sekedar diucapkan melainkan harus dipenuhi pula syarat-syarat dan tuntutannya. Seandainya orang yang masuk Islam cukup dengan hanya mengucapkan لاإله إلا الله dengan tanpa memenuhi syarat dan tuntutannya, niscaya musyrikin Quraisy diawal dakwah Rasulullah SAW akan mudah menerima dan mengucapkannya. Karena mareka tahu apa makna dan tuntutan لاإله إلا الله maka mereka tidak mau menerimanya. Sabagaimana fiman Allah :
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ. وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: لاإله إلا الله (Tiada yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”. (Ash- Shaffaat: 35-36)
Demikianlah, keadaan mereka menolak mengucapkan لاإله إلا الله, karena mereka tahu makna dan tuntutan لاإله إلا الله, Padahal sebagian mereka meyakini tidak ada yang menciptakan alam ini kecuali Allah. Atau ada di antara mereka beribadah hanya kepada Allah kendati di saat tertentu saja.
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah),” ( Al Ankabut : 65)
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ
“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (Luqman : 32)
Namun itu semua, keyakinan dan ibadah mereka tersebut tidak memberikan manfaat sedikitpun karena mereka tidak mau menerima tuntutan لاإله إلا الله untuk beribadah hanya kepada Allah baik dalam keadaan senang ataupun susah.
Pembaca yang kami muliakan, bagi siapapun yang berpikiran jernih hendaknya belajar dari ayat-ayat tersebut di atas. Jika seseorang beribadah kepada Allah semata disaat terpuruk saja dikatakan musyrik, mau dikatakan apa kepada mereka yang meminta kepada selain Allah di saat susah maupun senang? Padahal kesyirikan tersebut akan membatalkan kalimat syahadat “لاإله إلا الله”.
Untuk lebih jelasnya ikutillah edisi berikutnya tentang pembatal-pembatal syahadat لاإله إلا الله.
Wallahu a’lam.
Entry filed under: Aqidah. Tags: .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed