Tentang Ma’had
Mahad Umar bin Khattab, Selayang pandang
Mahad Umar bin Khattab didirikan 4 tahun yang lalu. Bermula dari pondok belajar buat beberapa santri usia dini yang ingin belajar al Quran dan menghafalnya. Sehingga, di awal perjalannya, Mahad dikenal dengan sebutan tahfidzul Quran Umar bin Khattab, itupun khusus untuk santri laki-laki. Dua tahun kemudian dibuka kesempatan untuk anak-anak perempuan. Kedatangan Ustadz Abdul Alim dari Yaman yang telah belajar di sana sekitar 7 tahun telah merintis jalan untuk membuka santri usia dewasa. Semula tempatnya di pondok lama Desa Cineumbeuy. Setelah bangunan Masjid hasil sumbangan dari seorang muhsinin selesai, akhirnya mahad pindah ke tempat baru –sekitar 400 meter dari pondok lama– di atas tanah wakaf keluarga ustadz Abdul Alim. Mahad terletak di kampung Pereng Desa Cipetir Kecamatan Lebakwangi Kabupaten Kuningan. Jika dari Jakarta dapat ditempuh sekitar 4-5 jam. Kini di lahan seluas 1 hektar, berdiri Masjid, 2 asrama santri seluas masing-masing 5 x 12 meter, dapur umum dan rumah pengurus. Selain masjid, semua bangunan berdiri semi permanen. Bangunan terdiri dari tembok sepotong, selebihnya dinding dari gedek (anyaman bambu). Kepindahan ke tempat baru khusus bagi santri putra, bertepatan dengan dibukanya Mahad untuk pendidikan santri Tadribuddu’at dan Takhassus. Semuanya berjalan –bi idznillah—setelah kepulangan Al Ustadz Faturrahman, yang belajar selama hampir 10 tahun kepada permata negeri Yaman Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi. Beliau juga banyak menimba ilmu kepada Asy Syaikh Yahya al Hajuri, pengganti Asy Syaikh Muqbil di Darul Hadits Yaman.
Kini jumlah santri semuanya 50 orang, terdiri santri Tahfidz, Tadribuddu’at dan Takhassus.
Lingkungan Mahad masih asri dengan hamparan sawah yang luas dan latar belakang perbukitan yang indah. Sangat tepat untuk lingkungan belajar santri yang membutuhkan ketenangan, jauh dari hiruk pikuk aktifitas masyarakat dan lalu-lalang kendaraan. Sungguhpun demikian, letak Mahad tidak masuk ke pelosok padesaan. Dari jalan besar yang dilalui kendaraan umum sekitar 300 meter saja. Adapun dengan kendaraan pribadi, jalan aspal terhampar hingga pintu gerbang Mahad. Walhamdulillah.
Untuk antisipasi perkembangan ke depan, pengelola Mahad membuka lahan kavlingan seluas hampir 2 hektar yang letaknya sekitar 200 meter dari Mahad. Lahan itu diprioritaskan untuk para penuntut ilmu yang sudah berkeluarga. Ada sekitar 115 bidang dengan luas variatif mulai dari 77 m3 sampai 120 m3. Hingga sekarang 10 bidang sudah laku terjual. Walhamdulillah.
Mahad Umar bin Khattab ingin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam memikul dakwah Ahlissunnah waljamaah. Oleh karenanya, dengan senantiasa memohon pertolongan dari Allah, Mahad berupaya untuk tetap mandiri tidak menggantungkan diri pada sumbangan donatur dengan cara misalkan menerbitkan proposal atau sejenisnya. Sungguhpun demikian, mahad tetap membuka diri kepada muhsinin yang mau menyisihkan sebahagian hartanya secara tidak mengikat.
Termasuk bagian dakwah adalah menyampaikan apa yang menjadi prinsip Ahlussunnah kepada masyarakat sekitar mahad. Mahad ingin membangun silaturahmi yang selama ini sudah berjalan dengan baik. Adanya yang hadir dari masyarakat sekitar pada saat shalat jumat menunjukan bahwa masyarakat menerima kehadiran mahad di lingkungan mereka, Alhamdulillah Disadari atau tidak, rata-rata markaz dakwah dan mahad salafiyah tidak akur dengan masyarakat sekitar. Momentum ini ingin terus dijaga dengan cara mahad menyampaikan dakwah seperti menerbitkan Buletin Dakwah Ahlussunnah Waljamaah atau memenuhi permintaan Masjid Desa Cipetir untuk mengisi khutbah jumat setiap minggu kedua.
3 Komentar Add your own
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Abu Umar | April 17, 2008 pada 11:38 pm
Bismillah.
Assalamu’alaikum.
Masya ALLAH tabaakallah.. senang sekali ada blog baru yang mendakwahkan salafiyah kepada masyarakat. Kalau ana boleh usul:
1. Themenya diganti, soalnya warnanya terlalu mencolok dan membuat silau, jadi kurang nyaman membacanya.
2. Blognya diupdate terus ya. Buletin Jumatnya diunggah (diupload). Afwan, ini sedikit masukan dari ana.
2.
Abu Harun | Sunniy Salafy | Juni 4, 2008 pada 12:12 pm
Tidak sabar rasanya menanti anak kami (10 bl) sampai usia bisa mondok di sini.. rasanya waktu berjalan begtu lamban.. Barokallahu fiikum.
3.
aboezaid | Juni 4, 2008 pada 9:39 pm
barokallahu fiikum
salam kenal dari ana